Jl.Citandui no 75 Lumajang
0334-881463
mtsn1lumajang.sch@gmail.com

Keteladanan Loper Koran

THE ISLAMIC CULTURE SCHOOL

Keteladanan Loper Koran

🌼 CERPEN, Nadia Nursalsabilla 🌼

Kringgggg.. kringgg…
Bunyi alarm memaksaku terjaga dari tidurku. Kulihat jarum jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Segera ku menuju kamar mandi mencuci wajahku dan mengambil air wudhu. Saatnya salat tahajud di sepertiga malam terakhir. Setelah puas dalam rakaat-rakaatku, kututup tahajud dan witirku dengan untaian doa-doa untukku juga orang-orang terkasih.

Hari Kamis, aku berharap bisa istiqamah puasa sunnah. Bergegas ku menuju dapur dan mulai memasak sayur sop dan perkedel kentang, menu pilihan sahurku saat ini. Semua kulakukan sendiri. Ya, benar-benar mandiri.

Acara memasak menu sahur selesai. Segera kuambil piring keramik putih bermotif bunga mawar. Kuambil nasi putih hangat, kuguyur dengan sayur sop ditambah toping perkedel kentang. Doa niat berpuasa sebelumnya tak lupa kuucapkan. Tak membutuhkan waktu lama, kusantap dengan lahap. Alhamdulillah, ternyata masakanku lumayan juga. Kutuangkan segelas air putih hangat, ku minum dengan nikmat. Ritual berikutnya, menggosok gigi untuk menghilangkan sisa makanan yang menempel di sela-sela gigiku yang sedikit berlubang. Tak menunggu waktu lama, azan Subuh berkumandang, kulanjutkan dengan salat Subuh di rumah.

Namaku Arini Wijaya, gadis berusia 20 tahun. Tinggal di perumahan yang telah kusewa dengan hasil tabunganku sendiri. Aku menempuh pendidikan sarjana di UNEJ Jember Jurusan Pendidikan Biologi. Karena masa pandemi virus Corona, maka kampusku mewajibkan stay at home, learn at home.

Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan kegiatan di rumah. Bosan, bosan, dan bosan yang terus menerus mengisi mood ku akhir-akhir ini. Aku selalu berharap pandemi ini segera berakhir. Ingin rasanya aku keluar rumah, bermain bersama teman, berdiskusi materi kuliah, ataupun hang out dengan sahabat dan teman temanku semua. Sayangnya, itu tak lebih dari sekedar angan-angan. Mau tak mau aku pun menghabiskan waktu di rumah dengan aktivitas ala kadarnya.

Pukul 13.00

Setelah menyelesaikan beberapa tugas kuliah, aku putuskan untuk belanja bahan bahan makanan online untuk persiapan  berbuka puasa nanti. Ya, ini hari kedua aku berpuasa, sebagai ganti puasa Ramadanku yang bolong kemarin. Lima belas menit kemudian pesananku datang. Aku segera mencuci dan memasaknya. Menu buka puasa kali ini sayur bayam, pepes tongkol, dan telur dadar.  Aku rasa harus ada menu takjil hari ini. Ya, kubuatlah setup pisang. Alhamdulillah, pisang kepok pemberian tetangga akhirnya kuolah juga. Karena terlalu banyak, aku memutuskan untuk menjadikannya beberapa bungkus  untuk kubagikan kepada tetangga atau mungkin siapapun yang kutemui di jalanan nanti.

Pukul 16.30 aku membagikan setup pisang ke sekitar area perumahan. Ya, sekalian ngabuburit J. Aku melihat seorang pemuda di pojok toko membawa segebok koran. Dia seorang loper koran.

“Assalamualaikum,” salamku.

“Waalaikumsalam,” jawab loper koran.

Aku menghampirinya dan memberikan sebungkus setup pisang kepadanya. Ia mengucapkan terima kasih. Barakallah, itu adalah setup pisang terakhir yang aku bagikan. Ternyata lelah juga ngabuburit sendiri, alhasil aku pun beristirahat sejenak di samping loper koran itu dengan tetap menjaga jarak.

 “Sekarang pasti sepi ya, ditambah lagi adanya pandemi virus Corona,” kataku memulai pembicaraan.

“Iya, Mbak, tapi Alhamdulillah tadi ada 1 koran yang terjual,” jawabnya.

“Pasti sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup saat pandemi ini, ya, Mas,” ucapku sambil menengok langit yang mulai memerah kala senja itu.

“Itu artinya saya harus bersabar, kalau misalnya tidak ada yang dimakan berarti rezeki saya berpuasa, Mbak,” jelasnya menjawab ucapanku sebelumnya.

“Kenapa bisa begitu, Mas?” tanyaku heran.

“Iya mbak, kan Allah yang memberi rezeki, Alhamdulillah selama saya berjualan koran meskipun laku atau tidak saya tidak pernah kelaparan. Selalu saja ada yang memberi saya, contohnya saja Mbak ini,” tuturnya dengan lembut dan ikhlas.

“Setiap orang memiliki rezekinya masing-masing, Mbak, jadi saya tidak pernah takut kekurangan bahkan kelaparan. Bagaimana bisa kita berpikir untuk takut kekurangan jika Tuhan kita adalah Tuhan Yang Maha Kaya dan Berkuasa terhadap makhlukNya?” tambahnya sambil tersenyum kepadaku. Aku pun hanya bisa membalas dengan senyuman pula. Pemuda loper koran itu pun pamit kepadaku untuk pulang ke rumahnya. Aku juga.

Sampai di rumah, azan Magrib pun berkumandang. Segera kubatalkan puasa dengan segelas setup pisang yang kubuat tadi siang. Selanjutnya kutunaikan salat Magrib. Selesai salat, aku masih terngiang ucapan pemuda loper koran tadi. Aku trenyuh, melihat keikhlasan dan kesabarannya. Sungguh terbersit sesal di hatiku atas sikapku yang terus menerus seperti anak kecil karena alasan-alasan sepele. Ah… aku memang tak pandai bersyukur. Padahal aku selalu sedih mempermasalahkan soal hang out, bermain, berkumpul bareng saudara, dan berlibur yang belum bisa aku wujudkan. Sedangkan loper koran itu, dia begitu ikhlas dan tak ada kesedihan sama sekali, ikhtiarnya sungguh luar biasa, sekalipun barang dagangannya hanya laku satu. Pemuda itu terlihat tegar dan sabar menghadapi ujian yang diberikan Allah kepadanya. Sepertinya, hidupnya selalu dipenuhi rasa syukur. Tak terasa, air mataku pun menetes. Aku pun bersujud dan menyampaikan penyesalanku, “Astaghfirullahal’azhim, ampuni hambamu yang kurang bersyukur ini, ya Allah.”

Lumajang, Oktober 2020

 

 

 

One Response

  1. Widatuz says:

    Subhanallah… Kisah yang bagus serta menyentuh hati. Semoga banyak karya-karyamu berikutnya yg juga menggugah hati.
    Coba buat kisah dari sudut pandang kamu pribadi sebagai gadis SMP/MTs.

    Ustadzah tunggu lho karyamu berikutnya…. 😘😘😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *